Dini hari, ada sekelumit gelisah saat seseorang pergi begitu saja tanpa konfirmasi.
Padahal malam ini rembulan dengan cerianya bercumbuan dengan bintang.
Awan gelap adalah saksi bisu disetiap malammalam yang dilalui keduanya.
Di sini, di depan jendela kamar kuperhatikan mereka berduaan.
Angin malam yang semakin sejuk saja telah membuat mata air air mata jatuh tanpa sadarku.
Bilakah salah satu dari mereka pergi tanpa aba-aba?
Bagaimana rasa sakitnya saat kehilangan?
Karna selalu bersama berdua menemani jiwa-jiwa lelah di bawahnya.
Oh duhai. .
Adalah gelisah yang tak ada ujungnya
Saat merindui kekasih pergi tak bersebab
Awan gelap tetap saja gelap
Ia pun tak mampu menjelaskan kenapa dan mengapa
Bilakah harus kesabaran menunggu ia kembali
untuk membuktikan sebesar apakah cinta yang dimiliki
Aku rela menunggumu sampai putus jantung ini
karna cinta ini muncul karna-Nya untuk kau miliki
Palembang, 26 Januari 2011
CATATAN KECIL
Tampilkan postingan dengan label Curhatku Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatku Hari Ini. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Januari 2011
Rabu, 19 Januari 2011
Di Kamar Pukul 16.30 WIB
Kamar ini tiba jadi lengang suara orang yang selalu berlalulalang di depan jendela.
Hujan mengantar mereka sibuk di rumah.
Ada yang mengemas barang, berbincang di teras bersama saudara, dan ada pula yang menikmati secangkir kopi dan sebungkus rokok.
Malas karena hujan jatuh begitu lembutnya berirama di luar jendela.
Bosan aku, kesal sendiri aku buat sendiri.
Boneka lumba-lumba pink kesayangan kupeluk, karena cuma dia yang bisa menghangatkan tubuhku.
Berbicara sendiri dengan foto-foto jaman kuliah dulu.
Depresi????
Tidak. . aku tidak depresi.
Aku hanya malas saja bangun dari tempat empuk ini dan juga malas sekali membuka pintu kamar.
Aku lebih suka membuka jendela kamar, karena di sana aku mendapati ketenangan suasana.
Ada surat rindu jatuh bersama derasnya air langit yang diiringi intro musik halilintar.
Isinya seperti ini:
"Duhai gadis, aku tahu kau sedang menanti seseorang. Dan seseorang itu adalah aku. Dan tunggulah suatu hari nanti aku akan menjemput hatimu, karena kau adalah tulang rusukku yang hilang sementara waktu"
Hahhhhhh!! kaget aku dibuatnya.
Siapa yang menulis surat itu padaku?
Tanpa nama.
Berulang-ulang aku baca surat itu, kemudian tiba-tiba saja angin yang bermain di luar sana memekik menyadarkan diri.
Ohhh. . cuma mimpi.
Palembang, 26 Desember 2010
Hujan mengantar mereka sibuk di rumah.
Ada yang mengemas barang, berbincang di teras bersama saudara, dan ada pula yang menikmati secangkir kopi dan sebungkus rokok.
Malas karena hujan jatuh begitu lembutnya berirama di luar jendela.
Bosan aku, kesal sendiri aku buat sendiri.
Boneka lumba-lumba pink kesayangan kupeluk, karena cuma dia yang bisa menghangatkan tubuhku.
Berbicara sendiri dengan foto-foto jaman kuliah dulu.
Depresi????
Tidak. . aku tidak depresi.
Aku hanya malas saja bangun dari tempat empuk ini dan juga malas sekali membuka pintu kamar.
Aku lebih suka membuka jendela kamar, karena di sana aku mendapati ketenangan suasana.
Ada surat rindu jatuh bersama derasnya air langit yang diiringi intro musik halilintar.
Isinya seperti ini:
"Duhai gadis, aku tahu kau sedang menanti seseorang. Dan seseorang itu adalah aku. Dan tunggulah suatu hari nanti aku akan menjemput hatimu, karena kau adalah tulang rusukku yang hilang sementara waktu"
Hahhhhhh!! kaget aku dibuatnya.
Siapa yang menulis surat itu padaku?
Tanpa nama.
Berulang-ulang aku baca surat itu, kemudian tiba-tiba saja angin yang bermain di luar sana memekik menyadarkan diri.
Ohhh. . cuma mimpi.
Palembang, 26 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)