kau mungkin tak percaya saat aku tak lagi waras, kemudian menulis
surat ini untukmu. Ada rasa getar di ujung jari saat tulisan mengalir
mengeluarkan aksara kemudian bersuara.
Kalimat yang mengawali salam pertamaku untukmu.
Awan tak akan lagi indah saat mendung berkerudung, suara burung parau saat halilintar menyelipkan cintanya yang berlebihan.
Aku
masih ingat tubuhmu yang waktu itu kau rebahkan di punggungku kemudian
kau mengawali perbincangan, "ahh, hidup ini seperti menikmati secangkir
kopi". Selalu, aku ingat kalimat itu entah kenapa. Mungkin tanpa sadar
kau bernyanyi dengan kalimat itu, tapi bagiku nyanyianmu adalah syair
merdu yang membuat aku mabuk kepayang.
Secangkir kopi yang
harus kau nikmati dengan hati yang mengirama degub nadi, karena kau
harus melihatnya dengan hati, kemudian baru bisa kau rasai dan maknai.
Dan kini, Tuhan membuatkan secangkir kopi. Semoga tak akan tumpah kala
ada di tanganku nanti. Semoga aku tak akan muntah saat mencicipi kopi
buatanNYA itu. "ahh, nikmatt" aku akan berusaha bilang begitu, walau
bohong merajai hatiku. Ya, kebohongan tak akan berwajah tunggal di
hadapanNYA kelak. Benar begitu kan sahabatku?
Palembang, 18 November 2010
CATATAN KECIL
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Surat Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Surat Rindu. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Januari 2011
Selasa, 18 Januari 2011
Surat Untuk Kekasih (1)
Apa kabar cinta?
Apa kabar dengan hatimu?
Semoga hati selalu bersahabat dengan semua hari.
Cinta. .
Apakah kau pernah mendengar atau mengalami cinta yang tak kunjung berbalas, seperti jatuh cinta sendirian dan asyik dengan perasaan kita sendiri?. Aku yakin kau pernah medengar dan mengalaminya sendiri.
Cinta. .
Demi Tuhan semesta alam bahwa aku sungguh menyayangimu, aku ingin berada di sampingmu saat kau gelisah, tertimpa masalah oleh hembusan-hembusan angin jahat yang kadang sesuka hati masuk tanpa permisi ke palung hati, menemanimu memaknai hidup ini yang sangat begitu sulit untuk dipahami.
Cinta. .
Aku sadar bahwa adakalanya kita melepaskan seseorang yang kita cintai, bukan berarti kita ingin menjadi pecundang hanya saja sekedar memahami jika orang yang kita cintai akan lebih bahagia ketimbang dia berada di sisi kita. Bukan begitu cinta?
Dan saat ini, aku melepasmu cinta, bukan karena aku tidak mecintaimu, bukan karena aku tidak menyayangimu. Sungguh atas nama Tuhan aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, sangat berharap kelak kita berdua selalu bersama. Tapi cinta, aku merasakan hal berbeda atas cinta yang kau miliki. Aku merasakan detak cinta yang apabila aku melepasmu berarti cintamu itu akan terus melagu seperti lagu cinta di hatiku ini. Kita akan bahagia cinta. Aku hanya tidak ingin kita berdua jatuh ke jurang nista yang lebih dalam lagi. Yakinlah dan yakinkanlah hatimu bahwa kita akan bahagia. Dan yakinkanlah kembali pada hatimu bahwa aku sangat mencintaimu apapun yang ada pada dirimu, terutama aku sangat menerima masa lalumu. Masa lalu yang sangat pahit yang harus kau lewati, tapi yakinlah cinta itu adalah suatu proses kedewasaanmu dan aku sangat menghargai itu.
Atas nama Tuhan yang bersemayam dalam hati
Aku akan mengucapkan terimakasih atas semua perhatian
yang dulu pernah kau bagi bersamaku.
Cinta. .
Di mural hati ini
Cinta tergambar
Dan tak akan pernah terhapus
Karna cintamu tulus
^_^ Palembang, 19 Januari 2011
Jumat, 07 Januari 2011
Surat Kepada Malam (episode 3)
Rindu menggelepar di hati
Irama malam bermain di lempenglempeng memori
Surga ada di setiap hati, dia hadir saat ketenangan diri menguasai. Altar jiwa ini selalu ingin bersuci kala pikiran-pikiran dangkal meracuni. Kau pernah berkali-kali membenturkan kepalaku di dinding jiwa yang keras bagai batu hingga remuk seperti debu. Oh duhai malam, kau sungguh ketenangan yang dicari setiap insan untuk bersujud di sepertiga malam milik Tuhan.
Gugus rindu bertaut
Malam menyisakan kenangan
Pada sajadah yang tersentuh sujud
^_^ Palembang, 7 Januari 2011
Irama malam bermain di lempenglempeng memori
Surga ada di setiap hati, dia hadir saat ketenangan diri menguasai. Altar jiwa ini selalu ingin bersuci kala pikiran-pikiran dangkal meracuni. Kau pernah berkali-kali membenturkan kepalaku di dinding jiwa yang keras bagai batu hingga remuk seperti debu. Oh duhai malam, kau sungguh ketenangan yang dicari setiap insan untuk bersujud di sepertiga malam milik Tuhan.
Gugus rindu bertaut
Malam menyisakan kenangan
Pada sajadah yang tersentuh sujud
^_^ Palembang, 7 Januari 2011
Jumat, 03 Desember 2010
Surat Kepada Malam (episode 2)
Pernah aku bertanya,
: Mana tunas rembulan yang
Kau gantungkan di langit kamarku?
Rindu, tiada daya
Hati, keluh
Untukmu sekali lagi kutulis surat ini. Berharap kau sulam lembar biru di hatiku dengan cinta dan kasih sebenarnya. Dan di dalam renungan, di dalam pekat gulita yang menyelimuti keberadaan pikiran, aku menyadari: tak perlu aku cari rembulan untuk menghibur diri. Karena rembulan itu adalah aku yang bersama lilin-lilin kecil pendar cahayanya terangi altar jiwa. Menepis gelap, mendung, gerimis yang selalu kau hantar untukku.
Dan malam ini, kembali kau kirim gerimis, mendung, hingga menelusupkan simfoni gelap di kamarku. Aku termangu, duduk di sudut kamar: bilakah selalu seperti ini setiap malamku? lalu suara-suaramu berlalulalang, kuharap menyadarkan lamunanku, bahwa sudah semestinya aku belajar dari cintamu, bahwa luka itu pasti ada dalam perjalanan kasih asmara, juga hidup adalah perjuangan. Perjuangan yang tak pernah akan berakhir hingga kematian.
Dalam mendungmu,
aku belajar tentang keteduhan.
Gadis, malam
Gerimis, do’a
Gelap, menjadi rembulan
^_^ Palembang, 29 November 2010
_________ diedit oleh: Imron Tohari
Kamis, 02 Desember 2010
Surat Kepada Malam (episode 1)
Mana tunas rembulan yang setiap malam kau gantungkan di langit kamarku?
Bintangku menangis di balik awan gemawan pekatmu.
Anginmu meniupkan ruh rindu yang bertahta di hatiku yang kelu.
Rimbun di hati sebuah rahim cinta yang melahirkan sebuah kerinduan. Kebahagiaan membalur jiwa setiap orang yang ditawan olehnya. Kesakitan pun akan menghujam atas bahagia yang hanya kita sendiri yang merasakannya. Bagiku.
Malam ini aku merasakan kesakitan atas kebahagiaan. Karena aku tertawan oleh rindu kepada rembulan yang biasanya ia menyinari kamarku. Terangnya pun melebihi terang lampu. Kau harus tahu, kalau rembulan itu sanggup menembus dinding hatiku yang kelam gulita seperti pekat langitmu malam ini. Ia mampu meluruhkan niat-niat negatifku menjadi ruh positif yang memayungi tidurku.
rindu rembulan di malam gulita
meraba-raba cahaya
rindu kutemui di buta mata
^_^ Palembang, 21 November 2010
Bintangku menangis di balik awan gemawan pekatmu.
Anginmu meniupkan ruh rindu yang bertahta di hatiku yang kelu.
Rimbun di hati sebuah rahim cinta yang melahirkan sebuah kerinduan. Kebahagiaan membalur jiwa setiap orang yang ditawan olehnya. Kesakitan pun akan menghujam atas bahagia yang hanya kita sendiri yang merasakannya. Bagiku.
Malam ini aku merasakan kesakitan atas kebahagiaan. Karena aku tertawan oleh rindu kepada rembulan yang biasanya ia menyinari kamarku. Terangnya pun melebihi terang lampu. Kau harus tahu, kalau rembulan itu sanggup menembus dinding hatiku yang kelam gulita seperti pekat langitmu malam ini. Ia mampu meluruhkan niat-niat negatifku menjadi ruh positif yang memayungi tidurku.
rindu rembulan di malam gulita
meraba-raba cahaya
rindu kutemui di buta mata
^_^ Palembang, 21 November 2010
Langganan:
Postingan (Atom)